Forgiveness

Oleh : Nathalia Sunaidi

Memaafkan adalah sebuah mukjizat yang bisa kita lakukan setiap saat. Saya baru menyadari pentingnya memaafkan setelah menjadi seorang hipnoterapis. Memaafkan berarti melepas. Dan tidak memaafkan adalah bagaikan seseorang yang di punggungnya terjahit ikatan-ikatan yang selalu menariknya mundur kembali pada saat dia berusaha untuk maju, dan sakitnya terasa merobek kulit.

Saya mempunyai klien seorang wanita muda yang cantik. Dia datang ke terapi karena telah berkali-kali mencoba bunuh diri. Sering sekali dia merasakan sedih yang tanpa alasan ketika ia bangun dari tidurnya dan di momen seperti itu ia akan mencoba bunuh diri karena kesedihannya tidak tertahankan. “Saya sedang sakit, bukan di tubuh tapi di batin. Obat apa pun telah saya minum tapi belum ada obat yang menyembuhkan batin saya”. Ketika saya tanya tujuannya menjalani terapi, dia menjawab, “Saya memiliki seorang suami yang sangat baik. Dan saya mau tetap hidup untuknya”.

Kami melakukan sesi hipnosis untuk mencari sumber kesedihannya yang membuatnya terus ingin bunuh diri. Saya meregresinya memasuki momen-momen di kehidupan sekarang. Dia memasuki banyak momen-momen indah dalam hidupnya. Sampai ketika saya meregresinya memasuki masa kecilnya, tiba-tiba tubuhnya menegang dan dia berteriak menangis, “Jangan biarkan dia masuk!”. “Siapa dia?”, tanya saya. “Ayah tiri saya. Dia menyentuh tubuh saya ketika saya sedang mandi”. “Kamu usia berapa saat itu?”. “Lima tahun. Dia terus memaksa saya untuk melayaninnya sampai saya berusia delapan tahun. Rumah kami kecil, hanya memiliki satu kamar sehingga saya harus tidur bersama dia. Ibu saya sering tidak berada di rumah”. Pelecehan seksual itu berhenti ketika mereka pindah ke rumah yang lebih besar dan neneknya tinggal bersamanya. Ketika saya tanya apakah ada orang lain yang mengetahui hal ini, dia menjawab tidak ada seorang pun yang tahu bahkan ibunya dan suaminya pun tidak tahu kejadian masa kecilnya itu. Setelah kami mengolah momen masa kecilnya itu, sampailah dia di momen memaafkan, “Saya maafkan dia dengan sepenuh hati untuk membebaskan saya dari cengkraman kesedihan ini. Tiga tahun dia memperkosa saya, tapi saya terus membawa siksaan itu sampai sekarang. Saya maafkan dia sekarang”.

Beberapa hari kemudian dia menelpon saya dengan suara yang lebih ceria. Dia bilang dia sudah bisa tersenyum dengan ringan seperti roh hitam yang selama ini merasukinya telah meninggalkan tubuhnya. Dan dia masih meneruskan terapinya untuk hasil yang lebih maksimal.

Banyak masalah yang begitu kompleks yang berangsur-angsur menjadi lebih baik dengan kita mau memaafkan. Memaafkan diri kita, memaafkan orang lain, memaafkan momen-momen buruk dalam hidup kita, memaafkan kekhilafan kita yang berarti kita melepaskan ikatan-ikatan yang terjahit di punggung kita supaya kita bisa melangkah maju dengan bebas dan menjalani hidup lebih bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s